Lumajang, Bogor Timur Parameter —Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi dengan meluncurkan awan panas hingga sejauh enam kilometer dari puncak kawah pada Sabtu pagi, 14 Februari 2026.

 Kolom abu vulkanik terpantau membumbung sekitar 2.000 meter di atas puncak gunung dan mengarah ke utara serta timur laut.

 

Kronologi Kejadian

Erupsi pertama tercatat berlangsung pada pukul 05.54 WIB, ditandai luncuran awan panas guguran yang bergerak ke sektor tenggara atau ke arah Besuk Kobokan.[1][2] Getaran erupsi terekam seismograf dengan amplitudo maksimum sekitar 25 milimeter dan durasi hampir 40 menit.

Tak lama kemudian, aktivitas vulkanik kembali meningkat dengan erupsi susulan pada sekitar pukul 07.25 WIB.[1] Pada fase kedua ini, kolom abu teramati setinggi kurang lebih 1.500 meter di atas puncak dengan sebaran abu masih condong ke arah utara dan timur laut.

 

Data Teknis dan Arah Sebaran  

Pada erupsi awal, awan panas guguran dilaporkan meluncur sejauh enam kilometer dari puncak ke sektor tenggara melalui alur Besuk Kobokan, yang selama ini menjadi salah satu jalur utama aliran material vulkanik Semeru.

Kolom abu berwarna kelabu pekat dengan intensitas tebal mencapai ketinggian sekitar 2.000 meter di atas puncak atau sekitar 5.676 meter di atas permukaan laut.

Erupsi susulan mencatat kolom abu sekitar 1.500 meter di atas puncak atau kurang lebih 5.176 meter di atas permukaan laut.

 Sebaran abu dari kedua kejadian itu dilaporkan mengarah ke sektor utara dan timur laut, sehingga berpotensi mengganggu jarak pandang dan aktivitas di wilayah yang searah dengan angin.

 

Sumber Informasi dan Pemantauan 

Informasi aktivitas terbaru Semeru disampaikan petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, yang melaporkan adanya awan panas guguran dengan jarak luncur enam kilometer pada erupsi pukul 05.54 WIB. 

 

Laporan tersebut sejalan dengan keterangan tertulis Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang mencatat parameter visual dan seismik erupsi pagi itu.

Seismograf di pos pemantauan merekam amplitudo maksimum sekitar 25 milimeter dengan durasi erupsi lebih dari 200 detik untuk salah satu kejadian, menandakan aktivitas yang cukup kuat.[1][3] Petugas pemantau terus mengobservasi perubahan visual, getaran, serta potensi perluasan sebaran material vulkanik dari puncak Semeru.

 

 

Status Gunung dan Imbauan  Gunung Semeru saat ini berstatus Level III atau Siaga, sehingga otoritas kebencanaan tetap menetapkan zona terbatas di sejumlah sektor yang berpotensi terdampak awan panas maupun aliran lahar. 

Masyarakat diimbau untuk tidak beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga radius yang ditetapkan PVMBG sebagai kawasan rawan awan panas guguran.

Penduduk yang bermukim di sekitar alur sungai berhulu Semeru juga diminta meningkatkan kewaspadaan, khususnya saat terjadi hujan yang dapat memicu banjir lahar dingin.

Warga didorong mengikuti arahan petugas di lapangan dan hanya mengacu pada informasi resmi dari pos pengamatan maupun lembaga berwenang lainnya.