Jonggol, Bogor Timur Parameter — Di sudut Cibodas, wilayah yang kini ramai diperbincangkan sebagai calon pemekaran Bogor bagian timur, berdiri sebuah rumah makan sederhana bernama Warung Baheula. Di tempat inilah, Ahmad Nasuha memulai sesuatu yang tak pernah ia rencanakan menjadi gerakan ekonomi.

 

Semua berawal dari kegelisahan sederhana.

Ia melihat bambu tumbuh begitu melimpah di sekitarnya. Murah. Mudah didapat. Namun hampir selalu berakhir sebagai bahan bangunan atau sekadar pagar. Potensinya terasa seperti tidur panjang yang tak pernah dibangunkan.

 

“Kenapa kita tidak mencoba sesuatu yang berbeda?” pikirnya waktu itu.

 

Ide yang Lahir dari Rasa Ingin Tahu

Ahmad bukan pengrajin profesional. Ia hanya mencoba. Dengan alat seadanya, ia mulai membentuk bambu menjadi cangkir. Terinspirasi dari negara lain yang sudah memanfaatkan bambu sebagai peralatan minum yang ramah lingkungan dan dipercaya lebih sehat, ia menguji kemungkinan itu di dapurnya sendiri.

 

Awalnya hanya iseng. Tanpa target besar. Tanpa perhitungan pasar.

 

Namun saat cangkir bambu itu dipajang di Warung Baheula, sesuatu yang tak terduga terjadi.

 

Pengunjung mulai bertanya. Memegang. Mengamati. Lalu membeli.

 

Yang tadinya hanya eksperimen, perlahan berubah menjadi peluang.

 

Ketika Media Sosial Membuka Pintu

Ahmad kemudian mencoba memamerkan hasil karyanya di media sosial. Responsnya meluas. Kerabat, teman, hingga relasi bisnis mulai memesan. Ada rasa bangga yang tumbuh, bukan hanya karena produk terjual, tetapi karena bambu yang dulu dianggap biasa kini memiliki nilai.

 

Di balik setiap cangkir bambu, ada cerita tentang keberanian mencoba.

 

Bukan sekadar menjual barang, tetapi mengubah cara pandang terhadap potensi lokal.

 

Lebih dari Sekadar Cangkir

Bagi Ahmad, ini bukan akhir. Ia melihat bambu sebagai pintu masuk.

 

Jika satu produk bisa diterima pasar, mengapa berhenti? Bambu bisa menjadi gelas, peralatan makan, suvenir, bahkan produk dekorasi bernilai tinggi. Ia membayangkan warga sekitar terlibat. Pemuda-pemuda belajar mengolah bambu. Ibu-ibu rumah tangga memiliki tambahan penghasilan.

 

Namun ia sadar, mimpi tidak bisa berdiri sendiri.

 

Dukungan sistematis dari pemerintah desa, kecamatan, hingga dinas terkait akan menjadi faktor penentu. Tanpa ekosistem yang kuat, inisiatif seperti ini sering kali berhenti di tengah jalan.

 

Suara yang Mengingatkan

Tokoh Bogor Timur, Mardani Kanta, ikut menyoroti fenomena ini. Menurutnya, UMKM tidak cukup hanya disebut sebagai tulang punggung ekonomi dalam pidato. Negara harus hadir secara konkret.

 

Data pelaku usaha harus diperbarui. Pembinaan harus berkelanjutan. Fasilitasi koperasi harus nyata, bukan hanya wacana. Ia mendorong kolaborasi antara pemerintah desa, kecamatan, dan SKPD yang membidangi UMKM serta koperasi untuk membentuk wadah yang kuat bagi pelaku usaha, termasuk model koperasi seperti “Merah Putih”.

 

Karena potensi tanpa pendampingan hanya akan menjadi cerita yang berulang.

 

Menjaga Budaya, Menghidupkan Ekonomi

 

Di tangan Ahmad, bambu bukan lagi sekadar tanaman liar. Ia menjadi simbol harapan. Harapan bahwa ekonomi bisa tumbuh dari halaman sendiri. Bahwa budaya mengolah sumber daya lokal bisa menjadi identitas sekaligus penghidupan.

 

Ia berharap generasi muda tidak hanya mencari peluang di luar daerah, tetapi juga melihat apa yang ada di depan mata. Potensi yang mungkin selama ini terlewatkan.

 

Cibodas mungkin hanya satu titik kecil di peta. Namun dari sana, muncul satu pertanyaan besar:

 

Jika bambu yang sederhana saja bisa memberi harapan, apa lagi yang sebenarnya tersembunyi di Bogor Timur yang belum kita maksimalkan?

 

Video ini bukan hanya tentang cangkir bambu. Ini tentang keberanian memulai. Tentang melihat peluang di tempat yang orang lain anggap biasa. Dan tentang harapan bahwa suatu hari,

 potensi lokal benar-benar mendapat ruang untuk tumbuh. (Jo)